MAKALAH
MULOK
” BUDIDAYA TANAMAN CABE
RAWIT”
Disusun Oleh :
ERISTIANA SRI AGUSTIN
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 10
KOTA BENGKULU
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan
Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing
yang telah membantu penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang
telah memberi motivasi dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih
banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan
kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan
datang.
Bengkulu, Maret
2016
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ..................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... ii
DAFATR
ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Betaking...................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.
Tujuan................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Syarat
Tumbuh..................................................................................... 3
B.
Tanah Yang Baik Untuk Tanaman Cabai............................................. 4
C.
Budidaya Tanaman Cabe Rawit........................................................... 4
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan........................................................................................... 13
- Kritik dan Saran .................................................................................. 13
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cabai rawit atau cabe rawit, adalah buah dan tumbuhan anggota
genus Capsicum. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai
bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura
ia dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di
Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional
yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa
Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili
pepper.
Buah cabai
rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya
lebih kecil daripada varietas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena
kepedasannya mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa
di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya.
Cabai rawit
merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi disebabkan karena
rasa pedas dan kandungan karotenoidnya. Di Indonesia
tingkat konsumsi masyarakat per kapita terhadap cabai cukup tinggi,demikian pula cabaipun
dibutuhkan pada beberapa industri .
Melihat
kebutuhan cabai rawit tiap tahunnya meningkat sehubungan dengan beragam dan
variasi jenis masakan di Indonesia meningkat yang menggunakan bahan asal cabai,
mulai dari kebutuhan rumah tangga, permintaan pasar, bahkan sampai pada
kebutuhan ekspor luar negeri. Maka dari itu perlu diadakan teknik budidaya
untuk peningkatan produksi dan mutu hasil tanaman cabai.
B. Rumusan Masalah
A. Bagaimana Syarat
Tumbuh?
B. Bagaimana Tanah Yang Baik Untuk Tanaman Cabai?
C. Bagaimana Budidaya Tanaman Cabe Rawit?
C.
Tujuan
1. Mengetahui Bagaimana Syarat Tumbuh
2. Mengetahui Bagaimana Tanah Yang Baik Untuk
Tanaman Cabai
3. Mengetahui Bagaimana Budidaya Tanaman Cabe Rawit
BAB II
PEMBAHASAN
A. Syarat
Tumbuh
1.
Iklim
Tanaman cabai rawit tumbuh di
tanah dataran rendah sampai menengah. Untuk tumbuhan yang optimal tanaman cabai
membutuhkan intensitas cahaya matahari sekurang-kurangnya selama 10 -12 jam.
Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan benih cabai adalah 25 - 30 0C,
sedangkan untuk pertumbuhannya 24 - 28 0C.
2.
Sinar Matahari
Penyinaran yang dibutuhkan adalah
penyinaran secara penuh, bila penyinaran tidak penuh pertumbuhan tanaman tidak
akan normal.
3.
Curah Hujan
Walaupun tanaman cabai tumbuh baik
di musim kemarau tetapi juga memerlukan pengairan yang cukup. Adapun curah
hujan yang dikehendaki yaitu 800-2000 mm/tahun.
4.
Suhu dan Kelembaban
Tinggi rendahnya suhu sangat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Adapun suhu yang cocok untuk pertumbuhannya
adalah siang hari 210C-280C, malam hari 130C-160C,
untuk kelembaban tanaman 80%.
5.
Angin
Angin yang cocok untuk tanaman cabai
adalah angin yang berhebus perlahan, angin berfungsi menyediakan gas CO2
yang dibutuhkan oleh tanaman cabai rawit.
6.
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat untuk penanaman
cabai adalah adalah dibawah 1400 m dpl. Berarti cabai dapat ditanam pada
dataran rendah sampai dataran tinggi (1400 m dpl). Di daerah dataran tinggi
tanaman cabai dapat tumbuh, tetapi tidak mampu berproduksi secara maksimal.
B. Tanah Yang Baik Untuk Tanaman Cabai
Tanaman cabai akan tumbuh baik pada
tanah yang kaya humus, subur, gembur dan terang serta pH antara 5-6. Tanaman
cabai tidak tahan pada kondisi tanah yang becek karena akan mudah terserang
penyakit layu dan pernafasan akar akan terganggu. Tanaman cabai rawit tumbuh
baik pada tanah yang : Berstruktur remah/gembur, lempung berpasir dan kaya
bahan organik; pH 5,0 - 7,0 optimal 6,0 - 6,5. Bila pH dibawah 5,0 perlu
ditambahkan kapur sebanyak 2 - 4 ton/ha. Penambahan kapur sangat tergantung
dari pH tanah yang dikehemdaki. Contoh pH tanah awal 5,0 sedang pH yang
diinginkan 5,5 maka perlu ditambahkan kapur sebesar 2 ton/ha, sedangkan jika pH
yang diinginkan 6,0 maka perlu ditambahkan kapur sebesar 4 ton/ha; Paling cocok
ditanam pada dataran dengan ketinggian 0 - 500 meter dpl. Curah hujan 600
- 1.250 mm/tahun. Suhu udara rata-rata tahunan berkisar antara 18 – 30 0C. Kelembaban 60 - 80%.
Cabai sangat sesuai ditanam pada
tanah yang datar. Dapat juga ditanam pada lereng-lereng gunung atau bukit.
Tetapi kelerengan lahan tanah untuk cabai adalah antara 0-10(kemiringan)
Tanaman cabai juga dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis
tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat (Harpenas, 2010).akan tetapi
tanah yang cocok adalah tanah yang mengandung unsur-unsur pokok yaitu unsure N
dan K,
Pertumbuhan akan terhambat jika suhu
harian di areal budidaya terlalu dingin. (Tjahjadi, 1991) mengatakan bahwa
tanaman cabai dapat tumbuh pada musim kemarau apabila dengan pengairan yang
cukup dan teratur.
C. Budidaya Tanaman Cabe Rawit
1.
Pembibitan
Biji
cabe rawit harus disemaikan lebih dulu sebelum ditanam. Untuk mempercepat
pertumbuhannya , biji cabe sebaiknya direndam dahulu dalam air selama 24 jam
sebelum ditanam. Perlu diperhatikan bahwa biji cabe yang baik adalah biji
yang betul-betul masak dan kering. Cara menyemai biji cabe bermacam-macam
, ada yang menggunakan kotak pesemaian, pesemaian di lapangan, kantung plastik
atau kantung dari daun kelapa, enau, pisang dll. Tanah yang digunakan
untuk pesemaian menggunakan tanah yang subur dan bebas dari gangguan hama dan
penyakit.
Pesemaian
sebaiknya menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa maupun daunan lainnya
agar suasana menjadi lebih lembab dan tanaman tidak terkena sinar matahari
langsung. Atap dapat dibuka atau ditutup menurut keperluan. Kalau
pagi sampai jam 10.00 atap dibuka, kemudian sesudah panas lebih dari jam 10.00
atap ditutup kembali . Kalau persemaian dibuat dalam kotak kecil dapat
dimasukkan dalam rumah.
2.
Pengolahan
Tanah
Tanah
harus dibajak dan dicangkul cukup dalam. Maksud pencangkulan tanah adalah
untuk membalik tanah dan menggemburkan tanah. Tanah liat walaupun sudah
dicangkul atau dibajak menjadi gembur , cangkul lebih dalam (30-40 cm)
dan diberi pupuk organis, misalnya kompos atau pupuk kandang dan dapat
ditambahkan pasir. Bila pupuk organis jumlahnya terbatas, maka
pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60 cm. Pupuk organik, pasir dan tanah
dicampur merata.
Pupuk
organik selain menggemburkan tanah juga dapat menambah unsur hara . Pupuk
organik yang diberikan sebaiknya sudah matang atau sudah menjadi tanah.
Pupuk yang mentah biasanya masih panas sehingga dapat menyebabkan tanaman cabe
menjadi layu dan mati.
3.
Pembuatan
Bedengan
Bedengan
dapat dibuat dengan ukuran lebar sekitar 90, 100 atau 125 cm dengan melihat
kondisi tanah. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm , tergantung keadaan lahan ,
kalau lahan sering tergenang air pada waktu musim hujan maka bedengan
dipertinggi. Jarak antar bedengan sekitar 40-5- cm atau dapat
dipersempit menjadi 30-35 cm.
4.
Pemupukan Dasar
Pada
waktu menanam cabe , tanah harus tersedia unsur hara yang cukup, maka bedengan
yang telah dipersiapkan dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang yang
sudah matang. Pupuk tersebut dapat disebarkan ke seluruh permukaan
bedengan atau hanya ditempat tanaman cabe akan ditanam. Selain itu dapat
ditambahkan pula pupuk SP 36 100 kg perhektar untuk menambah unsur P sedangkan
pupuk lainnya dapat diberikan kemudian.
5.
Penanaman
Bibit
cabe dapat dipindahkan setelah tumbuh setinggi kira-kira 15 cm di
pesemaian. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 90 cm. Pada
saat pengambilan semai di lapangan atau semai kotak dapat menggunakan solet
yang ditusukan dengan cara miring dan diangkat keatas sehingga semai akan
terangkat ke atas. Tempat yang akan ditanami semai dibuat lubang sedalam akar
tunggang. Setelah ditanam segera disiram dan diberi penutup pelepah
pisang atau daun-daunan supaya tidak layu. Bila semai berasal dari kantung
plastik, maka kantong plastik harus disobek lebih dulu pelan-pelan
sehingga media tanahnya tidak pecah. Kalau media tanam pecah ada kemungkinan
tanaman akan menjadi layu. Bila plastik tidak disobek lebih dulu , di
kemudian hari akar akan melingkar tidak dapat berkembang. Setelah bibit
cabe ditanam sebaiknya segera disiram air untuk menjaga kelembaban dalam tanah
dan kelembaban tanaman.
6.
Penyiraman, Drainase dan Mulsa
Tanaman
cabe sebaiknya sering disiram terutama pada saat musim kemarau karena tanahnya
cepat kering. Tanaman yang terlalu lama kekeringan maka
pertumbuhannya akan kerdil . Untuk menghindari kekeringan dapat
menggunakan mulsa dari dedaunan maupun dari jerami padi, Mulsa dari daun
lama kelamaan akan menjadi pupuk organik sehingga menambah kesuburan tanah.
Jika
menanam cabe pada musim hujan diusahakan jangan sampai tergenang air.
Bila tanaman cabe terlalu lama tergenang air, akar-akarnya dapat menjadi busuk,
daun mudah rontok dan akhirnya tanaman mati.
7.
Penyiangan
Bila
di lahan banyak gulma maka harus segera disiangi agar tidak menjadi pesaing
bagi tanaman cabai untuk mendapatkan unsur hara. Jika dalam jangka waktu
lama gulma tidak segera disiang, tanaman cabe akan menjadi kurus dan
kerdil. Namun pencabutan gulma perlu dilakukan hati-hati agar tidak
merusak tanaman cabenya. Untuk mengurangi munculnya gulma dapat juga
menggunakan herbisida sebelum bibit cabe ditanam.
8.
Penggemburan
Tanah
yang terlalu padat harus digemburkan dengan cara dicangkul (didangir) .
Tanah yang gembur peredaran udaranya menjadi lebih baik, sehingga perakaran
menjadi lebih sehat. Pada waktu menggemburkan tanah harus hati-hati,
jangan terlalu dalam sebab jika terlalu dalam dapat merusak perakaran.
Akar yang luka tau putus juga mudah terkena infeksi sehingga tanaman menjadi
sakit dan mati.
9.
Pemupukan
Tanaman
cabe yang telah ditanam sekitar satu minggu dapat segera dipupuk dengan pupuk
N, K atau campuran urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman. Pupuk SP
36 tidak perlu diberikan lagi karena sudah diberikan sebelum penanaman sebagai
pupuk dasar. Pada waktu melakukan pemupukan tidak boleh mengenai batang
karena akan merusak batang. Pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu dipupuk
lagi sebanyak 5 gram per pohon. Penggunaan pupuk daun maupun zat
perangsang tumbuhan dapat diberikan sesuai dosis anjuran dalam label kemasan.
10.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Tanaman cabe banyak diserang hama seperti thrips, kutu
daun, lalat buah dan lainnya , serta penyakit seperti antraknosa, layu
bakteri, layu fusarium, bercak daun cercospora, busuk buah , daun keriting. Adapun bberapa gejala dan pengendaliannya sebagai berikut :
a.
Kutu daun Aphis
gossypii
Kutu daun terdapat dimana-mana dan makan segala macam
tanaman. Kutu daun menyerang daun yang masih muda dan tunas muda. Daun
muda yang dihisap , pertumbuhan tidak normal, kerdil berkerut dan keriting.
. Kutu apis ini dapat menularkan penyakit virus , daun menjadi kerinting
.
Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila
jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan memijit menggunakan tangan.
Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis sesuai
anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan
predator seperti kumbang macan . Dapat pula menggunakan kertas aluminium
yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik (bawah ) daun tempat hama
bersembunyi.
b.
Thrips tabacci
Thrips menyerang hampir semua tanaman misal cabe,
tomat, sayuran daun, kentang , tembakau dll. Thrips menghisap cairan pada
permukaan daun dan bekasnya berwarna putih seperti perak. Bila serangan
hebat akan terda[at banyak bercak dan warna daun menjadi putih. Daun yang
diserang hama ini akan menggulung, bentuknya tidak normal dan menjadi
keriting. Karena thrips menjadi vektor virus, maka seringkali kelihatan
ada mosaik pada daun yang diserang hingga pertumbuhan menjadi kerdil, daun
sempit mengecil dan keriting. Thrips pada umumnya bersembunyi dibalik
daun sambil menghisap cairan.
Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila
jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan memijit menggunakan tangan.
Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis sesuai
anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan
predator seperti kumbang macan . Dapat pula menggunakan kertas aluminium
yang dapat memantulkan sinar matahari ke balik (bawah ) daun tempat hama
bersembunyi.
c.
Lalat buah
Dacus dorsalis
Buah cabe yang diserang lalat ini bentuknya menjadi
kurang menarik dan ada benjolan. Buah cabe akhirnya terkena cendawan
sehingga menjadi busuk . Buah cabe yang terserang sering dikira terserang
penyakit. Untuk membuktikannya sebaiknya buah dibelah dan bila terdapat
larva kecil putih berarti diserang lalat buah.
Pengendalian dengan menggunakan sex pheromon seperti
metil eugenol untuk memikat lalat jantan. Kalau lalat jantan berkurang
maka keturunannya juga akan berkurang.
d.
Antraknosa
Penyebabnya adalah cendawan Colletotrichum capsicci
yang tersebar dimana ada pertanaman cabe. Penyakit ini bisa timbul di lapangan
atau pada buah yang sudah dipanen. Mula –mula pada buah yang sudah masak
terdapat bercak kecil cekung kebasahan yang berkembang sangat cepat dan
terdapat jaringan cendawan berwarna hitam. Buah berubah menjadi busuk
lunak, berwarna merah kemudian menjadi coklat muda seperti jerami.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara biji
didesinfiksi menggunakan thiram 0,2 % (Benlate), dan jangan menanam biji dari
buah yang sakit serta dapat menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb,
propineb dan zineb.
e.
Daun keriting chilli
Daun cabe yang terserang menjadi keriting dan warnanya
menguning, bila serangan hebat pertumbuhan menjadi kerdil. Tanaman cabe
yang terserang ruas-ruasnya menjadi pendek, daun menjadi kecil dan tepi daun
melengkung ke atas. Penyakit ini banyak menyerang di musim kemarau.Cabe
yang telah terserang tanaman ini harus dicabut dan dibakar, gulma harus
dibersihkan dan dapat diberikan insektisida sistemik secara rutin dengan dosis
anjuran sebelum tanaman terserang.
f.
Pasca Panen
Tanaman
cabe rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sesudah disemai.
Panenan berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu tergantung dari kesehatan dan
kesuburan tanaman. Untuk tanaman cabe rawit bila dirawat dengan baik
dapat mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan pemangkasan dan
pemupukan kembali setelah tanaman dipanen. Pemupukan kembali dapat
memberikan pupuk
Cabe
yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban 95-98 %
dapat tahan sekitar 4 minggu dan pada 10 o C masih dalam keadaan
baik sampai 16 hari.
1)
Pengeringan .
Pengawetan dalam keadaan segar
waktunya tidak akan lama, tetapi kalu dikeringkan waktu simpan bisa lama.
Cabe yang akan dikeringkan harus dipilih yng berkualitas baik, tangkai dibuang
dan kemudian cabe dicuci bersih. Kemudian dimasukkan dalam air panas
beberapa menit, lalu didinginkan dengan cara dicelupkan dalam air dingin.
Selanjutnya ditiriskan di atas anyaman bambu atau kawat kasa sehingga airnya
keluar semua. Kemudian dijemur pada panas matahari sampai kering,
biasanya kurang lebih selama satu minggu.
diletakkan pada wadah yang dibuat
dari bambu atau kardus. Ukuran wadah sebaiknya tidak terlalu besar yaitu
antara 10 x 25 x 25 cm sampai 35 x 50 x 40 cm. Setiap sisi wadah diberi
lubang dengan garis tengah 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm.
BAB III
PENUTUP
\
A.
Kesimpulan
Cabe
merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang
tinggi. Cabe mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan.
Cabe (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak
dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi
dan memiliki beberapa manfaat kesehatan.
Budi daya
cabe merah bukanlah yang mudah dilakukan jika kita menginginkan hasil yang
lebih maksimal. Dalam budidaya cabe merah banyak hal yang harus diperhatikan
supaya hasil panen yang kita peroleh lebih baik, mulai dari pemilihan lahan
sampai cara panen.
B.
Saran
Dengan adanya makalah ini, kiranya
dapat menambah pengetahuan kita dalam pembudidayaan cabe, bukan hanya asal
tanam, akan tetapi bagaimana agar kita bisa memperoleh hasil panen yang lebih
maksimal.
Selanjutnya
dengan pengetahuan yang kita miliki, hendaknya kita bisa berbagi pengetahuan
kepada masyarakat kita terutama mereka yang membudidayakan cabe, dengan harapan
mereka bisa memperoleh hasil yang maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA